Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2016

Resume Buku Amal Jama’i



“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeri pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Ikhtiar perseorangan dengan cara sendiri tidak akan mampu memikul segala tugas dan tanggung jawab dakwah dan tidak akan berdaya melaksanakan segala tuntutan perjuangan dakwah dalam rangka memberantas segala kejahatan yang ada di muka bumi dan menghancurkan akar-akar jahiliyyah.

Amal Jama’i adalah kegiatan yang merupakan produk suatu keputusan jama’ah yang selaras dengan manhaj (sistem) yang telah ditentukan bersama, bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu.

Amal jama’i memiliki ciri-ciri :
  1. Aktivis yang akan dijalankan harus bersumber dari keputusan atau persetujuan jama’ah. 
  2. Jama’ah yang dimaksudkan, harus mempunyai Anggaran Dasar dan pengurusan yang tersusun rapi.
  3. Setiap tindakan dan akivitasnya harus sesuai dengan dasar dan strategi atau pendekatan yang telah digariskan oleh jama’ah. 
  4. Seluruh tindakannya harus bertujuan untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan bersama. 
Syarat mutlak bagi organisasi yang bergerak dalam aktivitas islami adalah harus mempunyai sistem organisasi yang lengkap dan kepemimpinan yang gesit. Hasan Al-Banna, dalam merumuskan masalah ini pernah menyimpulkan bahwa gerakan da’wah ikhwanul muslimin tegak diatas dasar “pengorganisasian yang rapi, iman yang teguh, dan jihad yang lestari”.
Faktor utama Ikhwanul Muslimin selalu mengutamakan organisasi yang mempunyai peraturan dan pengorganisasian yang rapi:
1.       Menjadi syarat terpenting untuk menjayakan cita-cita perjuangan organisasi manapun.
2.       Islam telah mewajibkan kepada ummatnya supaya teratur dalam segala hal untuk mencapai posisi yang lebih sempurna dan berguna.
Tujuan pengangkatan seorang ketua atau amir dalam suatu organisasi atau jama’ah bukan semata-mata sebagai lambang, tetapi bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi dan memudahkan jama’ah dalam bergerak dan bertindak melakukan aktivitas islami.
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada Allah.” (Al-Hadits)
“Apabila seorang hakim berijtihad, maka apabila ijtihadnya benar dan tepat maka baginya dua pahala, tapi apabila salah, maka baginya satu pahala saja.” (Al-Hadits)
Sebagai manifestasi ciri-ciri pengorganisasian yang paling jelas dan perlu mendapat perhatian yaitu:
  1. Bekerja keras, serius, gigih dan potensial dalam menjalankan seluruh tugas gerakan. 
  2. Manajemen yang rapi dan sistematik , serta disiplin yang tinggi ala militer. 
  3. Petunjuk pelaksanaan kerja yang jelas. 
  4. Pembagian tanggung jawab yang jelas bagi masing-masing pimpinan, 
  5. Menentukan sistem komunikasi anggota dan pimpinan yang bertanggung jawab di masing-masing peringkat kepemimpinan. 
  6. Komitmen penuh dengan apa yang telah ditetapkan oleh jamaah melalui pihak-pihak yng bertanggung jawab terhadapnya. 
Ketentuan, ciri-ciri,prinsip dasar dan sistem gerakan.
  1. Wasilah dakwah Tidak boleh bertentangan dengan hukum islam. 
  2. Marhalah dakwah Adalah kerangka dasar dan startegi jama’ah dengan melalui pengkajian yang mendalam tentang sejauh mana kekuatan dan kemampuan jamaah. 
  3. Maudhu’ dakwah (tema dakwah) Tema atau maudhu’ da’wah adalah mengenai totalitas ajaran islam. Diantara yan terpenting ialah yang menyangkut keimanan kepada Allah, Rasulullah (yang meliputi segala perbuatan, perkataan dan ketetapannya) dan beriman kepada hari akhir.
  4. Kaifiyat dakwah (metode pendekatan dakwah). Baik berupa Dakwah fardiyah dan pendekatan pribadi. Penyampaian buku-buku. Ceramah-ceramah Berkomunikasi dengan ahli ibadah maupun Akhlaq da’i 
Amal Jama’i akan mendatangkan hasil serta dapat mencapai tujuan dan cita-citanya apabila kegiatannya kontinu. Kegiatan kontinu menjadi syarat penting sebelum jamah dapat mencapai tujuannya. Agar amal jama’i bersifat kontinu maka organisasi tersebut harus memiliki kemantapan organisasi yang ditentukan oleh:
  1. Gerakan bersama yang kontinu bergantung pada keutuhan dan kemantapan organisasi tanpa ada keretakan dan perpecahan. 
  2. Gerakan bersama dapat kontinu apabila mampu mempertahankan semangat anggotanya ke tahap yang paling tinggi dan kuat. 
  3. Persatuan, disiplin, serta ketahanan anggota merupakan faktor terpenting bagi kontinuitas gerakan bersama. Persoalan terakhir yaitu cara menjaga persatuan, keutuhan organisasi, melestarikannya
Adapun Faktor-Faktor yang mempengaruhi ketahanan amal jama’i adalah:
  1. Adanya keyakinan pertolongan dari Allah agar ketahanan organisasi tetap terjaga walaupun susah. 
  2. Jika ada bencana, dan sudah diketahui dengan pasti sumber bencananya, maka harus selalu waspada dan mengambil langkah-langkah pengamanan, serta dengan cepat memberantas sumber bencana sebelum menular.

Rabu, 11 Mei 2016

ISLAM, PENDIDIKAN DAN PERADABAN

ISLAM, PENDIDIKAN DAN PERADABAN
Oleh: Mujahid Robbani Sholahudin


Bulan Mei merupakan bulan yang penting bagi para guru, dosen, pelajar dan mahasiswa, karena di dalamnya terdapat peringatan hari pendidikan nasional pada tanggal 2 Mei.

Sebagai seorang muslim yang telah terwarnai dengan kesempurnaan islam, sudah selayaknya kita menimbang segala persoalan dengan timbangan islam. Begitu pula halnya dengan pendidikan. Seperti apa pentingnya pendidikan dalam Islam?

Menengok pada sejarah turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW, wahyu pertama yang turun adalah QS. Al-'Alaq. Uniknya, wahyu pertama ini berisikan perintah "Bacalah". Padahal Rasulullah SAW tidak bisa membaca.
Tidak hanya sampai disitu, bahkan wahyu kedua yang turun adalah QS. Al-Qalam yang berbunyi "Nun. Demi pena dan apa yang dituliskannya." Tentunya ini menjadi isyarat bagi kita betapa pentingnya pendidikan dalam islam. Seperti yang telah kita ketahui bahwa membaca dan menulis merupakan budaya pendidikan yang saat ini banyak dilupakan oleh mahasiswa.

Pendidikan adalah kunci peradaban. Pendidikanlah yang membawa bangsa Arab yang jahiliyah menuju pada puncak peradaban tertinggi pada masanya yang disebut dengan Zaman Keemasan Islam.

Sayangnya, buku sejarah kita memulai kisah peradaban tepat setelah kejayaan islam runtuh, sehingga ummat islam kehilangan masa lalu yang gemilang. Ingatlah Al-Khawarizmi yang berperan penting dalam pengembangan matematika dan algoritma. Ingatlah Ibnu Sina yang menjadi bapak kedokteran dunia. Ingatlah Ibnu Rusydi, Al-Biruni, Ar-Razi, Al-Jabar, dan banyak lagi cendekiawan muslim yang menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Lalu mengapa ummat islam mengalami kemunduran?

Tentu saja karena kita telah jauh dari pedoman hidup kita. Sebagaimana sebuah Software yang kehilangan ReadMe. Kita sedikit demi sedikit kehilangan warna Islam dalam hati, akal, dan jasad kita.

Dalam hal ini mengenai pendidikan khususnya di Indonesia, kita disibukkan dengan sistem yang begitu rumit tanpa menengok keberhasilan pendidikan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, serta para ulama.
Begitu ironisnya konsep "menuntut ilmu" telah berganti menjadi "menunggu ilmu" di bangku-bangku kelas.

Pada akhirnya, kita sebagai mahasiswa harus serius dalam menjalankan fungsi mahasiswa.
Jadilah kita pemuda-pemudi yang siap memimpin masa depan kembali pada masa kejayaan Islam. Jadilah kita pemuda-pemudi yang mempunyai semangat mengubah peradaban menjadi lebih baik dengan pendidikan. Jadilah kita pemuda-pemudi yang siap mengabdi untuk masyarakat.

Semoga goresan keyboard ini bisa sedikit mencerahkan kita semua. Menyadarkan bahwa Islam pernah berjaya menguasai 2/3 dunia karena pendidikan. Kembalilah kita kepada pedoman dan teladan hidup kita, yaitu Al-Quran dan Rasulullah SAW. Banggalah kita akan kesempurnaan islam yang mengatur segala aspek kehidupan, khususnya pendidikan. Dan yakinlah bahwa sejatinya masa depan adalah milik kita. Wallahu a'lam.

Sabtu, 30 April 2016

HUJAN DAN SYUKUR

HUJAN DAN SYUKUR
Oleh: Mujahid Robbani Sholahudin

Teringat di masa kecilku, ketika ummiku menyanyikan lagu untukku..

"Allah turunkan hujan
Dari gumpalan awan
Dari langit yang tinggi
Membasahi seluruh bumi

Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Allah tumbuhkan sayur mayur

Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Pantaslah kita bersyukur"

Mendengar lagu itu, tertanamlah dalam benakku nilai-nilai ketauhidan. Bahwasanya hujan ini Allah-lah yang menurunkannya. Maka sepenuhnya saya meyakini bahwa tidak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia, melainkan ada manfaat atau hikmah di dalamnya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran: 190-191)

Namun seringkali manusia mengeluh akan datangnya hujan bahkan ada pula yang mencacinya. Padahal Allah telah jelaskan dalam firman-Nya bahwa hujan membawa rahmat bagi manusia.

"Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf: 57)

Pada dasarnya memang manusia tidak pernah puas akan keadaan. Jika diberikan panas terik, manusia mengeluh. Jika diberikan hujan lebat, manusia juga mengeluh. Lantas kapankah kita bisa bersyukur atas nikmat Allah?

Padahal syukur adalah salah satu indikator keimanan seorang hamba Allah, bahkan lawan dari syukur adalah kufur.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)

Marilah sama-sama kita bersyukur terhadap nikmat Allah. Jadikan hujan ini sebagai jalan kita mengenal Sang Pencipta, karena hujan merupakan salah satu Ayat-Ayat Kauniyah. Sehingga bagi kita orang yang beriman kepada Allah SWT, gunakanlah akal kita untuk berpikir dan Al-Quran sebagai pemberi penjelasan. Sehingga kita menjadi hamba Allah yang Tashdiq (membenarkan) dan berujung pada semakin kuatnya iman kita kepada Allah SWT.

Semoga Allah anugerahkan taufiq dan hidayah kepada kita semua. Aamiin. Wallahu a'lam.

Selasa, 30 Juni 2015

Hasan Al Banna: Dai, Murabbi, dan Pemimpin yang Mengabadi (Resume)



Resume Tokoh: Hasan Al Banna
Judul Buku      : Hasan Al Banna: Dai, Murabbi, dan Pemimpin yang Mengabadi
Oleh                : Zabir Rizq
Penerbit           : Harakatuna Publishing
Tempat Terbit  : Jalan Babakan Sari I No. 71 Kiaracondong, Bandung 40283
Waktu Terbit   : 2007
Jml Halaman   : xliv + 164 hlm
Resume Oleh   : Mujahid Robbani Sholahudin

            Buku ini merupakan biografi seorang tokoh besar yang unik karena berdasarkan perspektif tokoh-tokoh besar lainnya. Biografi Imam Syahid Hasan Al Banna berdasarkan pandangan Umar Tilmisani, Hasan Al Hudhaibi, Sayd Quthb, Dr. Musthafa As Siba’i, Muhammad Al Ghazali, Abdurrahman Al Banna, dll yang berjumlah 33 orang.
            Bicara tokoh besar ini tidak akan lepas dengan organisasi yang bernama Ikhwanul Muslimin. Seperti Hasan Al Hudhaibi yang lebih dahulu mengenal Ikhwanul Muslimin sebelum akhirnya mengenal Hasan Al Banna. Hasan Al Hudhaibi awalnya membaca sebuah brosur Ikhwanul Muslimin (IM), namun pandangan pertamanya terhadap IM biasa saja dan menganggap IM hanya organisasi yang membidani program tahfizh quran, bantuan rakyat miskin, motivasi ibadah, dll yang baginya tidak menarik. Sampai akhirnya Hasan Al Hudhaibi bertemu dengan sekelompok pemuda desa yang perbincangannya sangat intelek, dengan bahasa yang tinggi dan bahasan yang mendunia, yang ternyata sekelompok pemuda itu adalah anggota Ikhwanul Muslimin. Para pemuda itu menjelaskan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah organisasi dakwah yang meliputi pembinaan, perbaikan, akhlak, politik, ekonomi, dll. Mulai dari saat itu Hasan Al Hudhaibi tertarik dan akhirnya melihat langsung Hasan Al Banna ketika berceramah.
            Hasan Al Hudhaibi menjelaskan bahwa ungkapan Hasan Al Banna sesungguhnya keluar dari lubuk hatinya dan merasuk ke dalam hati sanubari pendengarnya. Seperti itulah yang dapat dicapai oleh seorang pembicara apabila ia menyampaikan ceramahnya dengan niat yang ikhlas karena Allah semata. Kalimat yang disampaikan Hasan Al Banna bagai air sungai yang mengalir tenang ke tempat yang tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, atau bagai alunan musik yang terdengar merdu tanpa nada sumbang. Ketika ia berbicara kepada pendengarnya, jiwa mereka bergelora, hati mereka dilimpahi keimanan, dan akal mereka memperoleh informasi dan pengetahuan yang beragam.
            Hasan Al Hudhaibi mendapatinya sebagai pribadi yang sangat rendah hati, menampakkan etika dan tatakrama tanpa beban sedikit pun. Ilmunya dalam dan melimpah, dikaruniai kecerdasan yang langka, akal yang luas, memahami beragam masalah besar dan kecil dengan baik, dan memiliki cita-cita yang tinggi. Semua itu disertai dengan semangayt beragama yang rasional tanpa fanatisme dan kesemrawutan.
            Selama Hasan Al Hudhaibi bersama dengannya, tidak pernah sekalipun terdengar dari mulutnya sepatah kata yang mengandung hinaan terhadap kehormatan atau ideologi orang lain. Bahkan, juga tidak kepada mereka yang melukai dan menyakitinya dalam perjanjian atau agama. Ia berusaha berkomitmen menjaga hal itu hingga pada batas yang digariskan oleh Allah.

Rabu, 27 Agustus 2014

Psychological War




 “Dan tidak akan senang orang-orang Yahudi dan Nashrani hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Hari ini di seluruh negara di muka bumi sedang berperang. Perang yang tak nampak namun terasa gejala dan akibatnya. Perang yang tanpa senjata dan amunisi yang nyata namun membunuh ratusan bahkan ribuan korban. Perang yang benar-benar terasa merubah tatanan peradaban dunia. Namun tak hanya bersifat penyerangan tanpa perlawanan, perang ini tentu ada balasannya. Sebagaimana perang fisik yang dibalas dengan perlawanan demi membela diri. Sesungguhnya perang itu adalah perang pemikiran.

Kita tahu dan merasakan bahwasanya hari ini serangan-serangan dari pihak tentara Dajjal (baca: Zionis & Kafirun) mengenai sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri tanpa kita sadari. Kita lihat berbagai kemaksiatan yang kini merajalela dianggap biasa saja, seolah itu suatu hal yang lumrah. Padahal dahulu itu adalah hal yang tabu dan selalu dijaga oleh nenek moyang kita melalui ajaran para Nabi dan Rasul Allah.

Kita lihat hari ini tayangan televisi 80%nya tidak mendidik dan tidak berkarakter, berisi pesan kemaksiatan dan kejahatan yang lagi-lagi dianggap lumrah. Artis-artis yang dengan terang-terangan berzina di depan publik dan pemirsa itu semua tidak dianggap tabu lagi. Artis yang terbukti zina kini malah dipuja-puja seperti seorang pahlawan.

Kita lihat hari ini semua sudah terbalik, yang haq dianggap bathil, yang bathil dianggap haq, sehingga mereka terbiasa dan akhirnya terjerumus pada lingkaran setan. Baru-baru ini kita melihat muslimin ditangkap hanya karena menunjukkan kalimat tauhid. Ini dikenal sebagai monsterisasi tauhid. Dan terbentuknya organisasi-organisasi teroris pun diduga salah satu dari rencana para tentara Dajjal. Kita semua sadar bahwa kita sekarang sedang digiring jauh dari apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Rupanya para pasukan dajjal meyakini kekalahan mereka jika melakukan perang fisik dengan kita. Mereka takut untuk melakukannya. Maka perang pemikiranlah yang dianggap mereka efektif dalam menyerang kita. Dimulai dari menghilangkan budaya membaca dan menulis, sehingga ummat islam kini menjadi malas berkarya. Lalu membuat budaya-budaya baru yang merusak seperti pacaran, narkoba, dll.

Fenomena yang banyak terjadi di masyarakat seakan tak bisa lagi ditahan. Maka yang harus kita lakukan hari ini adalah menyerang balik dan berusaha memulihkan korban-korban perang pemikiran, dan dakwah menjadi peran utama. Berikut langkah-langkah yang mungkin bisa diterapkan demi melawan perang pemikiran dan menyelamatkan para korbannya:
  1. Selesaikan dahulu urusan ruhiyah kita. Kita tahu bahwa pemilik segala kekuasaan hanyalah Allah SWT. Takdir kita pun untuk menang. Hanya saja apa yang membuat kita pantas untuk dimenangkan? Maka yg kita lakukan adalah memantaskan diri untuk menang dengan mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Perkasa. Rendahkan diri dihadapan-Nya. Selesaikan hafalan quran kita. Karena Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.” Beliau ditanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau SAW menjawab, “Mereka adalah Ahlul Quran, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Coba bayangkan jika salah satu anggota keluarga kita dilukai, apa yang kita lakukan? Pasti kita akan menolong dan membela keluarga kita. Begitu pula yang Allah lakukan. Jika para Ahlul Quran yang merupakan keluarga Allah dilukai oleh orang-orang kafir, Allah tidak segan-segan menurunka bala tentara bantuan dan menghancurkan musuh kita. 
  2. Membaca situasi dan kondisi dunia. Dalam peperangan, adalah keharusan kita untuk ma’rifatul medan. Mengenali medan pertempuran. Jika kita tidak tahu kondisi dunia saat ini, bagaimana kita bisa menyerang balik?
  3. Membentengi diri dari kemaksiatan. Karena sesungguhnya kemaksiatan ini bisa menjadi penyebab kekalahan ummat islam. Kita ingat ketika di perang Uhud, ketika Rasul memerintahkan pasukan pemanah agar tidak turun dari bukit, tetapi yang terjadi adalah mereka bermaksiat dengan tidak menaati perintah Rasul. Akhirnya 70 Shahabat terbunuh pada perang itu.
  4. Membangkitkan kembali semangat membaca dan menulis. Semangat ini yang dahulu dihancurkan oleh orang-orang kafir. Yaitu ketika perpustakaan ummat islam dimusnahkn sebagiannya sehingga kini ummat islam menjadi malas dan hilang budaya membaca dan menulis. Padahal kita tahu bahwa pada abad pertengahan ummat islam berada pada puncak kejayaan, banyak sekali ilmuwan dan cendekiawan muslim. Bahkan karya-karyanya dicontek dan diikuti oleh orang-orang kafir saat ini.
  5. Menggalakkan dakwah fardhiyah (pendekatan personal dalam dakwah). “Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali yang beriman dan beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Semoga Allah meridhoi usaha-usaha kita dan memenangkan Islam di atas muka bumi.

“Dialah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. Ash-Shaff: 9)
Wallahu a’lam.