Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2016

Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama
Oleh: Mujahid Robbani Sholahudin



Setiap manusia pasti memiliki nama. Ia menjadi identitas paling dasar dalam diri manusia. Ia juga menjadi atribut yang paling awal ditanya dalam proses mengenal sesama. Ada yang menganggap nama adalah visi hidupnya, ada pula yang menganggap sebagai doa dari orang tuanya, atau menganggap sepele dengan mengatakan "Apalah Arti Sebuah Nama".

Ya, nama memang hanya sebuah nama. Tapi bagi saya ini menjadi arah yang jelas untuk saya bertindak, jika dan hanya jika dia sadar akan fungsi namanya. Bagi saya nama adalah doa dari orang tua saya yang berharap diri saya sesuai dengan nama saya. Bagi saya nama adalah bagaimana seharusnya saya bersikap. Dan nama yang akan menentukan posisi saya di hari kiamat nanti.

"Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian, maka baguskanlah namamu." (HR Muslim).

Perkenalkan, nama saya Mujahid Robbani Sholahudin. Izinkan saya menjelaskan makna dari nama yang saya miliki.

1. Mujahid

Secara bahasa, Mujahid artinya adalah orang yang bersungguh-sungguh atau berjuang. Singkatnya Mujahid artinya Pejuang atau dalam bahasa Inggris adalah Fighter.

"Mujahid adalah orang yang berjihad memerangi jiwanya dalam ketaatan kepada Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari larangan Allah." (HR. Ahmad)

"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa: 95-96)

2. Robbani

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang Robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (QS. Ali Imran: 79)

Robbani adalah orang-orang yang senantiasa mempelajari Al-Quran dan juga mengajarkannya kepada orang lain dengan ikhlash.

Imam Ibn Jarir al-Thabari yang dikenal dengan sebutan Imamul Mufassirin mengatakan bahwa Robbani adalah seseorang yang memenuhi beberapa kualifikasi yaitu:

A. Faqih, dalam arti memahami agama Islam dengan sangat baik.
B. 'Alim, dalam arti memiliki ilmu pengetahuan
C. Bashir bis siyasah ('melek' politik)
D. Bashir bit tadbir ('melek' manajemen)
E. Qaim bi syu-un al-ra'iyah bima yuslihuhum fi dun-yahum wa dinihim (melaksanakan segala urusan rakyat yang mendatangkan kemaslahatan mereka, baik dalam urusan dunia maupun agama)

3. Sholahudin

Secara bahasa, Sholahudin artinya adalah Kebaikan Agama.

Namun, Sholahudin bisa juga bermaksud nama tokoh besar pemimpin pasukan muslim dalam Perang Salib yang bernama Sholahudin Al-Ayyubi yang berhasil merebut Masjidil Aqsa ke tangan ummat Islam.

Sholahudin terkenal sebagai penguasa yang menunaikan kebenaran, bahkan memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme.

Sholahudin juga dikenal sebagai orang yang saleh dan wara‘. Ia tidak pernah meninggalkan salat fardu dan gemar salat berjamaah. Bahkan ketika sakit keras pun ia tetap berpuasa, walaupun dokter menasihatinya supaya berbuka. “Aku tidak tahu bila ajal akan menemuiku,” katanya. Sholahudin amat dekat dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Ia menetapkan hari Senin dan Selasa sebagai waktu tatap muka dan menerima siapa saja yang memerlukan bantuannya. Ia tidak nepotis atau pilih kasih.

Dengan ketiga kata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Mujahid Robbani Sholahudin diharapkan mampu menjadi seorang "Pejuang di jalan Allah yang senantiasa mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang lain dengan ikhlash dan demi kebaikan Agama seperti seorang Sholahudin Al-Ayyubi".

Sungguh berat nama yang tersemat dalam diri ini. Tentu saja, nama yang seindah dan sedalam ini belum tentu sesuai dengan kenyataan si pemilik nama. Akan tetapi alangkah bahagianya orang tua saya, jika saya mampu menjadi apa yang diharapkan mereka. 

Maka saya jadikan nama ini sebagai motivasi paling dasar dalam hidup saya. Ketika saya kehilangan semangat, saya harus ingat bahwa saya adalah Mujahid yang harus terus berjuang. Ketika saya terhanyut dalam keindahan dunia yang melalaikan, saya harus ingat bahwa saya adalah Robbani yang harus terus ikhlash. Dan ketika saya kehilangan tujuan, saya harus ingat bahwa saya adalah Sholahudin yang bergerak untuk kebaikan agama.

Terkadang kita sering mencari motivasi hikmah dari orang lain, itu tidak salah. Namun jangan lupa bahwa hikmah terdekat ada pada diri kita sendiri.

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat: 20-21)

Selamat mencari hikmah. Semoga bermanfaat.

Selasa, 17 Mei 2016

MENSYUKURI KEGELAPAN

MENSYUKURI KEGELAPAN
(Oleh: Mujahid Robbani Sholahudin)


Hari ini, sepanjang FT hingga Blok M merasakan mati listrik, membuat kami berada dalam kegelapan dari pagi hingga sore hari. Produktivitas kami berkurang, handphone dan gadget kami kehabisan baterai. Kami hanya duduk termenung memandangi hujan gerimis yang syahdu atau tidur di ruang-ruang sekretariat kami, atau mengisi waktu gelap dengan indahnya tilawah Al-Quran dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela sekretariat kami.

Bagaimana mungkin kami tidak bersyukur, ketika kegelapan ini hanyalah kegelapan akibat mati listrik sementara. Sedangkan pada zaman ketika Islam belum datang di Jazirah Arab, mereka dalam kegelapan moral dan akhlaq?! Mereka bersumpah dengan nama Allah dan tuhan-tuhan lainnya yang mereka juga agungkan. Mereka berdagang namun tidak tahu akan dibawa kemana perdagangannya ketika ajal menjemput. Mereka kaya namun tidak paham untuk apa uangnya ia persembahkan. Begitulah kondisi bangsa Arab Jahiliyah yang tertimpa kegelapan moral dan akhlaq. Sungguh ini lebih buruk dan lebih terpuruk daripada kegelapan lampu-lampu kita.

Bagaikan berada di padang gersang luas yang takkan kau temukan air disana, datanglah seorang pemuda gagah berani dan terpercaya membawakan air minum yang sejuk dan menyegarkan. Begitulah Rasulullah SAW, diutus oleh Allah SWT kepada ummat manusia khususnya bangsa Arab Jahiliyah, dengan segala kemuliaan moral dan akhlaqnya. Keberanian, ketenangan, dan sikap optimisnya membawa cahaya yang sedikit demi sedikit melenyapkan kegelapan di sekitarnya.

Dakwahnya yang bijaksana dan pengajaran yang baik telah mengeluarkan bangsa Arab dari kegelapan Jahiliyah kepada cahaya Islam. Hingga mereka mengingkari thaghut-thaghut mereka dan hanya Allah saja yang berhak mereka sembah. Ayat-ayat cinta yang selalu ia lantunkan mencerminkan pengabdian yang mendalam pada ummatnya, bahkan ketika maut menjemputnya.

Hari ini memang gelap, namun bersyukurlah kepada Allah atas nikmat islam dan nikmat iman yang tak dirasakan oleh orang-orang kafir. Lahir dalam keadaan muslim adalah anugerah terindah dalam hidup ini. Iman yang kita yakini dalam hati, yang kita ucapkan dengan lisan, dan kita amalkan dalam perbuatan menuntut keistiqamahan dalam diri ini. Istiqamah dalam mensyukuri apa yang Allah berikan pada kita semua, agar Allah Yang Maha Pemberi menambahkan nikmat ini. Istiqamah dalam berdzikir dan berfikir memuji kebesaran Allah SWT. Sehingga istiqamah akan membawa kita menuju kebahagiaan yang haqiqi, di dunia dan di akhirat. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Wallahu a’lam.

Rabu, 11 Mei 2016

ISLAM, PENDIDIKAN DAN PERADABAN

ISLAM, PENDIDIKAN DAN PERADABAN
Oleh: Mujahid Robbani Sholahudin


Bulan Mei merupakan bulan yang penting bagi para guru, dosen, pelajar dan mahasiswa, karena di dalamnya terdapat peringatan hari pendidikan nasional pada tanggal 2 Mei.

Sebagai seorang muslim yang telah terwarnai dengan kesempurnaan islam, sudah selayaknya kita menimbang segala persoalan dengan timbangan islam. Begitu pula halnya dengan pendidikan. Seperti apa pentingnya pendidikan dalam Islam?

Menengok pada sejarah turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW, wahyu pertama yang turun adalah QS. Al-'Alaq. Uniknya, wahyu pertama ini berisikan perintah "Bacalah". Padahal Rasulullah SAW tidak bisa membaca.
Tidak hanya sampai disitu, bahkan wahyu kedua yang turun adalah QS. Al-Qalam yang berbunyi "Nun. Demi pena dan apa yang dituliskannya." Tentunya ini menjadi isyarat bagi kita betapa pentingnya pendidikan dalam islam. Seperti yang telah kita ketahui bahwa membaca dan menulis merupakan budaya pendidikan yang saat ini banyak dilupakan oleh mahasiswa.

Pendidikan adalah kunci peradaban. Pendidikanlah yang membawa bangsa Arab yang jahiliyah menuju pada puncak peradaban tertinggi pada masanya yang disebut dengan Zaman Keemasan Islam.

Sayangnya, buku sejarah kita memulai kisah peradaban tepat setelah kejayaan islam runtuh, sehingga ummat islam kehilangan masa lalu yang gemilang. Ingatlah Al-Khawarizmi yang berperan penting dalam pengembangan matematika dan algoritma. Ingatlah Ibnu Sina yang menjadi bapak kedokteran dunia. Ingatlah Ibnu Rusydi, Al-Biruni, Ar-Razi, Al-Jabar, dan banyak lagi cendekiawan muslim yang menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Lalu mengapa ummat islam mengalami kemunduran?

Tentu saja karena kita telah jauh dari pedoman hidup kita. Sebagaimana sebuah Software yang kehilangan ReadMe. Kita sedikit demi sedikit kehilangan warna Islam dalam hati, akal, dan jasad kita.

Dalam hal ini mengenai pendidikan khususnya di Indonesia, kita disibukkan dengan sistem yang begitu rumit tanpa menengok keberhasilan pendidikan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, serta para ulama.
Begitu ironisnya konsep "menuntut ilmu" telah berganti menjadi "menunggu ilmu" di bangku-bangku kelas.

Pada akhirnya, kita sebagai mahasiswa harus serius dalam menjalankan fungsi mahasiswa.
Jadilah kita pemuda-pemudi yang siap memimpin masa depan kembali pada masa kejayaan Islam. Jadilah kita pemuda-pemudi yang mempunyai semangat mengubah peradaban menjadi lebih baik dengan pendidikan. Jadilah kita pemuda-pemudi yang siap mengabdi untuk masyarakat.

Semoga goresan keyboard ini bisa sedikit mencerahkan kita semua. Menyadarkan bahwa Islam pernah berjaya menguasai 2/3 dunia karena pendidikan. Kembalilah kita kepada pedoman dan teladan hidup kita, yaitu Al-Quran dan Rasulullah SAW. Banggalah kita akan kesempurnaan islam yang mengatur segala aspek kehidupan, khususnya pendidikan. Dan yakinlah bahwa sejatinya masa depan adalah milik kita. Wallahu a'lam.

Sabtu, 30 April 2016

HUJAN DAN SYUKUR

HUJAN DAN SYUKUR
Oleh: Mujahid Robbani Sholahudin

Teringat di masa kecilku, ketika ummiku menyanyikan lagu untukku..

"Allah turunkan hujan
Dari gumpalan awan
Dari langit yang tinggi
Membasahi seluruh bumi

Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Allah tumbuhkan sayur mayur

Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Pantaslah kita bersyukur"

Mendengar lagu itu, tertanamlah dalam benakku nilai-nilai ketauhidan. Bahwasanya hujan ini Allah-lah yang menurunkannya. Maka sepenuhnya saya meyakini bahwa tidak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia, melainkan ada manfaat atau hikmah di dalamnya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran: 190-191)

Namun seringkali manusia mengeluh akan datangnya hujan bahkan ada pula yang mencacinya. Padahal Allah telah jelaskan dalam firman-Nya bahwa hujan membawa rahmat bagi manusia.

"Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf: 57)

Pada dasarnya memang manusia tidak pernah puas akan keadaan. Jika diberikan panas terik, manusia mengeluh. Jika diberikan hujan lebat, manusia juga mengeluh. Lantas kapankah kita bisa bersyukur atas nikmat Allah?

Padahal syukur adalah salah satu indikator keimanan seorang hamba Allah, bahkan lawan dari syukur adalah kufur.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)

Marilah sama-sama kita bersyukur terhadap nikmat Allah. Jadikan hujan ini sebagai jalan kita mengenal Sang Pencipta, karena hujan merupakan salah satu Ayat-Ayat Kauniyah. Sehingga bagi kita orang yang beriman kepada Allah SWT, gunakanlah akal kita untuk berpikir dan Al-Quran sebagai pemberi penjelasan. Sehingga kita menjadi hamba Allah yang Tashdiq (membenarkan) dan berujung pada semakin kuatnya iman kita kepada Allah SWT.

Semoga Allah anugerahkan taufiq dan hidayah kepada kita semua. Aamiin. Wallahu a'lam.

Rabu, 30 September 2015

Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Berbagai Permasalahan di Indonesia



Indonesia dengan jutaan penduduk muslimnya menjadikan negara ini layak disebut sebagai salah satu negara muslim terbesar di dunia. Namun banyak sekali permasalahan yang timbul di negara ini. Bahkan tidak sedikit yang berkaitan dengan moral dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan koridor agama dan peraturan. Betapa menyedihkan ketika kita menyadarinya. Dan menurut saya, solusinya adalah Pendidikan Agama Islam yang berbasis nilai-nilai keindonesiaan.
Pendidikan menjadi sebuah kunci peradaban. Peradaban akan baik ketika pendidikannya berkualitas. Selain itu, agama Islam yang merupakan satu-satunya agama yang diridai Allah juga merupakan solusi bagi berbagai permasalahan yang muncul di Indonesia. Karena Allah telah menjamin dalam kitab suci Alquran yang berbunyi sebagai berikut:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)
Kita juga tidak mungkin bisa melupakan peran pendahulu kita, kakek dan nenek moyang kita yang telah berjuang mati-matian membela dan merumuskan dasar negara Indonesia. Tentu saja mereka tidaklah merumuskan hal itu secara sembarangan. Merekalah para manusia biasa yang telah diilhami dengan kebijaksanaan, keberanian dan optimisme. Sehingga terbentuklah nilai-nilai Indonesia, terutama Pancasila sebagai dasar negara kita dan menjadikan Indonesia merdeka yang hingga kini telah berumur tujuh puluh tahun.
Jika kita telusuri, ternyata Pancasila dari sila pertama hingga sila kelima, semuanya sejalan dengan nilai-nilai Islam. Mari kita telusuri, pada sila pertama tertulis “Ketuhanan yang Maha Esa.” Sila ini menjelaskan bahwa Indonesia menganut Monoteisme (Tauhid). Dan kita tahu bahwa hakikat dakwah para Rasul semenjak zaman nabi Adam as. hingga nabi Muhammad saw. adalah Tauhid, yaitu mengesakan Allah. Disinilah terdapat nilai akidah sebagai fondasi keimanan seseorang. Maka jika ingin Indonesia bangkit dari keterpurukan, mulailah dengan penanaman akidah yang kuat dan bersih (Salimul Aqidah).
Selain nilai akidah, pada sila pertama juga terdapat nilai ibadah. Allah telah berfirman bahwa salat mampu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar. Puasa mampu menundukkan hawa nafsu. Zakat mampu menyucikan jiwa dan harta kita. Dan haji mampu memurnikan ketaatan kita kepada Allah Yang Maha Esa, tunduk dan patuh hanya kepada Allah. Maka jika Indonesia ingin menghilangkan kriminalisme, maka perbaikilah ibadah kita. Ibadah pun juga harus mengikuti tuntunan Rasul saw. dan juga ikhlas hanya untuk Allah (Shahihul Ibadah).
Pada sila kedua berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Sebagai seorang khalifah di muka bumi, Allah telah memerintahkan kita untuk berbuat adil dan beradab dalam menjaga dan memelihara bumi. Disini terdapat nilai akhlakul karimah, baik kepada Allah, makhluk-Nya, dan juga diri sendiri. Sementara kita sering melihat berita di televisi, kasus bunuh diri, penebangan liar, pemerkosaan, pembunuhan, dll. Di mana nilai-nilai ke-Indonesia-an mereka? Nah, disini peran Pendidikan Agama Islam harus mengokohkan akhlak manusia (Matinul Khuluq).
Sila berikutnya adalah “Persatuan Indonesia”. Dengan berbagai macam suku bangsa, bahasa, budaya dan agama memang menjadi tantangan yang besar untuk menyatukan Indonesia. Para pendahulu kita juga sering mewanti-wanti agar masyarakat Indonesia terus bersatu. Peristiwa Sumpah Pemuda memberikan gambaran betapa pentingnya persatuan Indonesia. Namun, sekarang yang terjadi adalah banyaknya perdebatan yang tidak bermanfaat, bangsa ini terpecah-belah karena politik praktis, lalu umat Islam terjebak dengan permasalahan sepele karena perbedaan cabang dalam agama. Bangsa ini tidak akan bisa bersatu jika terus mementingkan egoisme pribadi.
Dalam Islam, dikenal nilai ukhuwah, bahwa setiap muslim itu bersaudara, bersatulah dalam tali agama Allah dan jangan terpecah-belah. Kita juga mengenal tahapannya, mulai dari mengenal satu sama lain, saling memahami, saling tolong-menolong dan senasib sepenanggungan. Bahkan indahnya ukhuwah islamiah, dikenal istilah itsar sebagai puncak dari ukhuwah, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya dan juga istilah salimatus shadr, yaitu berlapang dada terhadap saudaranya. Masya Allah, Pendidikan Agama Islam di Indonesia harus menekankan prinsip bersatu dalam akidah, sedangkan masalah kecil yang bersifat cabang seperti aliran mazhab selagi masih berlandaskan Alquran dan Sunah maka tidak perlu untuk diperdebatkan sehingga menyulut perpecahan.
Berikutnya yaitu sila keempat “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan/atau perwakilan”. Jika kita memaknai lebih dalam, rakyat Indonesia ini harus memiliki pemimpin. Pemimpin yang bijaksana dalam bersikap, yang mampu menyerap aspirasi masyarakat melalui prinsip musyawarah dan/atau perwakilan rakyat. Dalam Islam, dikenal istilah Al-Qiyadah wal-Jundiyah, yaitu tentang hak dan kewajiban serta etika pemimpin terhadap rakyatnya, maupun rakyat kepada pemimpinnya. Juga dikenal ‘Amal Islami, bahwa dalam bergerak dan bekerja itu butuh berjamaah (bekerjasama) dalam mencapai satu tujuan yang sama. Namun, sekarang yang terjadi adalah pemimpin tidak paham akan kepemimpinannya, aspirasi masyarakat diabaikan, rakyat tidak memercayai pemimpinnya, pemerintahan yang tidak mampu bekerjasama dengan pihak lainnya sehingga tidak sinergis. Ini membuktikan bahwa Pendidikan Agama Islam akan berperan besar menanamkan nilai dan menjadi solusi permasalahan pada sila ini.
Dan yang terakhir adalah “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Banyak kasus tentang belum adilnya kehidupan sosial di Indonesia, ketika kesenjangan terjadi antara si kaya dan si miskin. Ini berkaitan pula dengan kemandirian seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Juga berkaitan dengan lapangan pekerjaan yang semakin lama semakin sempit. Ini begitu kompleks, padahal solusinya juga terdapat di dalam Islam, yaitu zakat. Kita tahu bahwa zakat adalah wajib bagi seorang muslim, bahkan senantiasa diingatkan begitu banyak dalam Alquran. Zakat jika diterapkan dengan baik maka tidak akan ada lagi rakyat yang kelaparan, terbukti pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, ketika tidak ada lagi yang bisa diberikan santunan zakat. Zakat sangat banyak ketentuan dan jenisnya, maka Pendidikan Agama Islam sangat penting untuk mendidik dan membantu terlaksananya zakat dalam prinsip seorang muslim di masa depan.
Jadi, kita sudah yakin dengan mantap bahwa Pendidikan Agama Islam sebenarnya menjadi solusi konkret jangka panjang untuk memperbaiki Indonesia, dan nilai-nilai Indonesia dalam pancasila ikut andil dalam penyesuaian terhadap kondisi yang ada pada Indonesia. Ini menjadi model yang sangat baik menurut saya. Benarlah perkataan Rasulullah saw.:
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya.” (HR. Malik)
Mengapa kini Indonesia menghadapi berbagai masalah kompleks? Jawabannya adalah karena bangsa Indonesia semakin jauh dengan agama Islam. Jangan salahkan Islam ketika Indonesia terpuruk, tapi salahkan manusianya yang belum sadar terhadap agamanya. Nah, lagi-lagi Pendidikan Agama Islam menjadi sangat berperan dalam mendidik generasi pencerah peradaban. Semoga Pendidikan Agama Islam di Indonesia di masa depan benar-benar menjadi solusi bangkitnya peradaban Indonesia. Sehingga membuktikan janji Allah kepada bangsa yang beriman dan bertakwa, bahwa Indonesia akan diberkahi oleh Allah dari langit dan dari bumi. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lam.





DAFTAR PUSTAKA
RI, Departemen Agama. 1976. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Bumi Restu
Malik bin Anas. 2009. Al-Muwaththa’ Imam Malik. Diterjemahkan oleh: Muhammad Iqbal Qadir. Jakarta: Pustaka Azzam
Republik Indonesia. 1945. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta: Sekretariat Negara
Jasiman. 2009. Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah. Surakarta: Aulia Press
Masyhur, Syaikh Mushthafa. 2000. Fiqh Dakwah. Diterjemahkan oleh: Abu Ridho. Jakarta: Al-I’tishom
Al-Banna, Hasan. 2012. Majmu’atu Rasa’il. Diterjemahkan oleh: Anis Matta. Surakarta: Era Adicitra Intermedia
http://www.ahmadheryawan.com/lintas-jabar/lintas-jawa-barat/23-pendidikan/4058-pendidikan-kunci-kemajuan-peradaban

Jumat, 29 Agustus 2014

Diperbudak Cinta Semu


Bukan tak punya cinta, sebagai manusia biasa dan pria normal saya tetap mempunyai cinta. Cinta itu fitrah, dan hak yang boleh dimiliki oleh semua orang. Cinta itu indahnya abadi, seperti apa indahnya?

Laki-laki maupun perempuan akan merasakan cinta sejak masa pubertas. Alayers, galauers, dan semacamnya biasanya berada pada tahapan ini. Tahukah Anda? Bahwa di setiap jenjang kehidupan kita selalu dipertemukan dengan rasa suka dan cinta! Mau bukti? Jujur-jujuran aja deh! Waktu kita SMP pasti ada yg kita sukain kan? Ngaku! Entah berapa orang yang kita sukain yang jelas pasti ada walaupun satu. Trus di SMA, ngaku aja pasti ada kan? Jujur! Trus pas kita di Kampus, pasti adaa lagi orang yg kita sukain. Bener ga? Begitu pula nanti ketika kita masuk dunia kerja, dan kemasyarakatan, pasti akan ada yang kita sukai lagi. Ini artinya cinta yang kita alami saat itu adalah cinta semu dan tidak terikat.

Kawan2, yakinlah bahwa cinta semu itu adalah ujian keimanan bagi kita, apakah kita lulus atau gagal karena berhasil diperbudak oleh cinta semu. Kalau kita turuti dengan malah menembaknya menjadi pacar kita lalu kita bermaksiat dengan melakukan zina, maka kita gagal. Kalau kita menahannya hingga Allah mempertemukan kita dengan jodoh dan tepat waktunya serta siap untuk menikah. Insya Allah kita berhasil dan disini letak keindahan cintanya.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut:  2-3)
Saya bicara begini bukannya sok tau ya, ini asli pengalaman dari saya sendiri. Dulu, saya pernah pacaran. Memang pada saat itu bayangannya indah. Tapi ternyata setelah dipikir-pikir, pacaran itu lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya. Seperti halnya judi, miras, dll yang ada untungnya walaupun sangat sedikit dibanding kerugiannya. Pacaran itu:
  1. Buang waktu, buang pulsa, pikiran sempit. Wahai pemuda, harga pergerakan dan waktu pemuda itu sangatlah mahal! Jangan habiskan hanya untuk SMSan tiap menit. Telpon-telponan tiap jam. Mesra-mesraan. Mikirin diaa terus padahal dia belum jadi pasangan sah kita. Kalo suami istri mah ga masalah begitu smsan telponan mesra-mesraan, lagipula kalo udah jadi suami istri kayaknya ga gitu2 amat. Pemuda harusnya fase kita untuk aktif dan berkarya, di pikiran kita itu ummat. Gerakan kita juga cepat dan dibutuhkan.
  2. Jauh dari Allah, dekat dengan setan. Banyak pasangan-pasangan tanpa ikatan sah jalan-jalan berduaan, naik motor, atau gandengan, pelukan, dll yang gamau saya sebutkan. Na’udzubillahi min dzalik. Padahal Rasul SAW telah bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua." (HR. Ahmad) 
  3. Masuk kategori zina. Dengan alasan apapun saya berani berkata pacaran itu tetap termasuk zina. Mungkin ada yang bilang, “saya kan ga pegangan” atau “saya kan ga ngapa-ngapain kok” kata siapa? Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32). Mendekati aja dilarang apalagi melakukan? Zina itu bukan berhubungan secara ekstrem aja loh, zina itu bisa dibilang sepele tapi dosanya bahaya! Rasul SAW bersabda: “Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)
Dan masih banyak kerugian-kerugian lain yang bisa dipikirkan sendiri.

Alhamdulillah Allah telah menyadarkan saya, bahwa pacaran itu ga penting! Tapi saya mau pacaran lagi, nanti setelah nikah. Hehe :D

Karena kata orang bijak, cinta akan indah pada waktunya, yaitu ketika kita berhasil memenjarakan nafsu cinta yang semu untuk mendapatkan cinta sejati di pelaminan. Aamiin.

Jodoh sudah tertulis di lauh mahfuzh kok, walaupun jodoh kita sekarang jaraknya jauuuhh bgt di timur dan kita di barat, Allah akan dekatkan. Belajar dulu yang bener tentang ilmu Allah. Temukan hakikat kehidupan kita. Cintai Allah dan Rasul-Nya.

Semoga Allah menetapkan hati kita dalam keistiqomahan, menguatkan kita dengan iman dan taqwa, menurunkan hidayah-Nya dan mempertemukan kita pada cinta yang sejati, setelah Allah, Rasul, Agama, dan Keluarga. Aamiin.

Hanya manusia biasa yang mencoba mengerti.

Wallahu a’lam.