Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2016

Resume Buku Amal Jama’i



“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeri pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Ikhtiar perseorangan dengan cara sendiri tidak akan mampu memikul segala tugas dan tanggung jawab dakwah dan tidak akan berdaya melaksanakan segala tuntutan perjuangan dakwah dalam rangka memberantas segala kejahatan yang ada di muka bumi dan menghancurkan akar-akar jahiliyyah.

Amal Jama’i adalah kegiatan yang merupakan produk suatu keputusan jama’ah yang selaras dengan manhaj (sistem) yang telah ditentukan bersama, bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu.

Amal jama’i memiliki ciri-ciri :
  1. Aktivis yang akan dijalankan harus bersumber dari keputusan atau persetujuan jama’ah. 
  2. Jama’ah yang dimaksudkan, harus mempunyai Anggaran Dasar dan pengurusan yang tersusun rapi.
  3. Setiap tindakan dan akivitasnya harus sesuai dengan dasar dan strategi atau pendekatan yang telah digariskan oleh jama’ah. 
  4. Seluruh tindakannya harus bertujuan untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan bersama. 
Syarat mutlak bagi organisasi yang bergerak dalam aktivitas islami adalah harus mempunyai sistem organisasi yang lengkap dan kepemimpinan yang gesit. Hasan Al-Banna, dalam merumuskan masalah ini pernah menyimpulkan bahwa gerakan da’wah ikhwanul muslimin tegak diatas dasar “pengorganisasian yang rapi, iman yang teguh, dan jihad yang lestari”.
Faktor utama Ikhwanul Muslimin selalu mengutamakan organisasi yang mempunyai peraturan dan pengorganisasian yang rapi:
1.       Menjadi syarat terpenting untuk menjayakan cita-cita perjuangan organisasi manapun.
2.       Islam telah mewajibkan kepada ummatnya supaya teratur dalam segala hal untuk mencapai posisi yang lebih sempurna dan berguna.
Tujuan pengangkatan seorang ketua atau amir dalam suatu organisasi atau jama’ah bukan semata-mata sebagai lambang, tetapi bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi dan memudahkan jama’ah dalam bergerak dan bertindak melakukan aktivitas islami.
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada Allah.” (Al-Hadits)
“Apabila seorang hakim berijtihad, maka apabila ijtihadnya benar dan tepat maka baginya dua pahala, tapi apabila salah, maka baginya satu pahala saja.” (Al-Hadits)
Sebagai manifestasi ciri-ciri pengorganisasian yang paling jelas dan perlu mendapat perhatian yaitu:
  1. Bekerja keras, serius, gigih dan potensial dalam menjalankan seluruh tugas gerakan. 
  2. Manajemen yang rapi dan sistematik , serta disiplin yang tinggi ala militer. 
  3. Petunjuk pelaksanaan kerja yang jelas. 
  4. Pembagian tanggung jawab yang jelas bagi masing-masing pimpinan, 
  5. Menentukan sistem komunikasi anggota dan pimpinan yang bertanggung jawab di masing-masing peringkat kepemimpinan. 
  6. Komitmen penuh dengan apa yang telah ditetapkan oleh jamaah melalui pihak-pihak yng bertanggung jawab terhadapnya. 
Ketentuan, ciri-ciri,prinsip dasar dan sistem gerakan.
  1. Wasilah dakwah Tidak boleh bertentangan dengan hukum islam. 
  2. Marhalah dakwah Adalah kerangka dasar dan startegi jama’ah dengan melalui pengkajian yang mendalam tentang sejauh mana kekuatan dan kemampuan jamaah. 
  3. Maudhu’ dakwah (tema dakwah) Tema atau maudhu’ da’wah adalah mengenai totalitas ajaran islam. Diantara yan terpenting ialah yang menyangkut keimanan kepada Allah, Rasulullah (yang meliputi segala perbuatan, perkataan dan ketetapannya) dan beriman kepada hari akhir.
  4. Kaifiyat dakwah (metode pendekatan dakwah). Baik berupa Dakwah fardiyah dan pendekatan pribadi. Penyampaian buku-buku. Ceramah-ceramah Berkomunikasi dengan ahli ibadah maupun Akhlaq da’i 
Amal Jama’i akan mendatangkan hasil serta dapat mencapai tujuan dan cita-citanya apabila kegiatannya kontinu. Kegiatan kontinu menjadi syarat penting sebelum jamah dapat mencapai tujuannya. Agar amal jama’i bersifat kontinu maka organisasi tersebut harus memiliki kemantapan organisasi yang ditentukan oleh:
  1. Gerakan bersama yang kontinu bergantung pada keutuhan dan kemantapan organisasi tanpa ada keretakan dan perpecahan. 
  2. Gerakan bersama dapat kontinu apabila mampu mempertahankan semangat anggotanya ke tahap yang paling tinggi dan kuat. 
  3. Persatuan, disiplin, serta ketahanan anggota merupakan faktor terpenting bagi kontinuitas gerakan bersama. Persoalan terakhir yaitu cara menjaga persatuan, keutuhan organisasi, melestarikannya
Adapun Faktor-Faktor yang mempengaruhi ketahanan amal jama’i adalah:
  1. Adanya keyakinan pertolongan dari Allah agar ketahanan organisasi tetap terjaga walaupun susah. 
  2. Jika ada bencana, dan sudah diketahui dengan pasti sumber bencananya, maka harus selalu waspada dan mengambil langkah-langkah pengamanan, serta dengan cepat memberantas sumber bencana sebelum menular.

Kamis, 23 Juni 2016

Makna Kemenangan Puasa Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh ummat islam. Di akhir ramadhan, kita sering menyebutnya sebagai hari kemenangan.

Apa sih makna kemenangan puasa dalam islam? Coba kita lihat dari dalil puasa.

Dalam Al-Quran,

"Wahai orang2 beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan pula atas orang2 sebelummu agar kamu bertaqwa."
(QS. Al-Baqarah: 183)

Dan hadits,

"Barangsiapa yang berpuasa di bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap ridha allah, Allah akan ampuni dosa2nya yang telah lalu". (HR. Bukhari & Muslim)

Beralih sejenak, di kampus setiap tahunnya pasti ada agenda Pelatihan, seperti PKMJ, Muslim Fighter, dll.

Nah, puasa ini ibarat sebuah Pelatihan. Di awal sambutan biasanya Ketua Pelaksana memberi tahu apa tujuan akhir dari Pelatihan ini, misalnya agar menjadi pemimpin yang tangguh dan di akhir mendapat sertifikat telah lulus pelatihan dengan nilai A, B, C, dsb.

Seperti halnya Allah SWT memanggil kepada orang2 beriman, yaitu orang2 yang pernah mendaftarkan diri menjadi muslim melalui syahadat atau didaftarkan orang tuanya menjadi muslim sejak lahir untuk mengikuti Pelatihan yang dinamakan Ash-Shiyaam (Puasa)

Adapun tujuan akhir dari Pelatihan ini jelas tercantum yaitu la'allakum tattaqun, agar orang2 beriman itu menjadi bertaqwa.

Lantas apa untungnya menjadi orang bertaqwa?

Dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman

Inna akramakum 'indallahi atqakum

"Sesungguhnya yang PALING mulia di sisi Allah adalah yang PALING bertaqwa di antara kamu."

Bukan mulia ajah loh, tapi mulia banget karena menggunakan kata "paling".

Jadi sejatinya kita mengikuti pelatihan ini untuk mencapai suatu kesuksesan yaitu menjadi orang yang paling mulia di hadapan Allah..

Bulan Ramadhan ini menjadi momen kita untuk memuliakan diri di hadapan Allah SWT.

Tapi sayangnya.. Rasulullah bersabda

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah)

Jadi, banyak orang kehilangan pahala puasa, karena ibarat ikut Pelatihan, tetapi tidak ikut materi, sepanjang hari tidur2an saja, tugas2 Pelatihan pun tidak dikerjakan. Akhirnya, mustahil dia lulus dari Pelatihan itu.

Sama halnya seperti puasa. Bagaimana kita ingin mendapatkan ampunan Allah, bagaimana ingin mendapat gelar taqwa, bagaimana ingin jadi yang paling mulia di sisi Allah. Jikalau selama puasa kita masih bermaksiat, menyia-nyiakan waktu, atau tidur saja sepanjang hari, tidak memanfaatkan dengan memperbanyak ibadah.

Dan sesungguhnya kemenangan dari puasa bukanlah di waktu maghrib atau di hari raya, tetapi di 11 bulan berikutnya, karena gelar taqwa itu justru sebuah amanah. Dan yang benar2 menang adalah yang istiqomah.

Banyak orang yang merasa menang ketika idul fitri, tetapi beberapa hari setelahnya mengulangi perbuatan2 buruk di masa lalu. Na'udzubillahi min dzalik.

Kalau setelah ramadhan maksiat itu berkurang atau bahkan hilang selamanya, disitulah kita menang. Namun jika sebaliknya, maka kita telah kalah.

Jadi kesimpulannya, arti kemenangan yang sesungguhnya pada bulan Ramadhan ini menurut saya adalah ketika kita berhasil meraih prestasi dalam:

1. Menyambut seruan Allah
2. Berhasil menahan hawa nafsu, lapar, dahaga, dan yang membatalkan puasa
3. Mengambil banyak manfaat dari puasa
3. Memperbanyak ibadah
4. Diampuni dosa2nya yang telah lalu
5. Mendapatkan gelar taqwa
6. Menjadi yang paling mulia di sisi Allah
7. Mempertahankan kemuliaan di 11 bulan berikutnya.

Semoga Allah menjaga kita semua dari perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah dan istiqomahkan kita sampai ajal menjemput. Sehingga kita benar-benar menang dan menjadi pribadi yang bertaqwa. Aamiin.

Wallahu a'lam bishshawab..

-Mujahid Robbani Sholahudin-

Selasa, 17 Mei 2016

MENSYUKURI KEGELAPAN

MENSYUKURI KEGELAPAN
(Oleh: Mujahid Robbani Sholahudin)


Hari ini, sepanjang FT hingga Blok M merasakan mati listrik, membuat kami berada dalam kegelapan dari pagi hingga sore hari. Produktivitas kami berkurang, handphone dan gadget kami kehabisan baterai. Kami hanya duduk termenung memandangi hujan gerimis yang syahdu atau tidur di ruang-ruang sekretariat kami, atau mengisi waktu gelap dengan indahnya tilawah Al-Quran dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela sekretariat kami.

Bagaimana mungkin kami tidak bersyukur, ketika kegelapan ini hanyalah kegelapan akibat mati listrik sementara. Sedangkan pada zaman ketika Islam belum datang di Jazirah Arab, mereka dalam kegelapan moral dan akhlaq?! Mereka bersumpah dengan nama Allah dan tuhan-tuhan lainnya yang mereka juga agungkan. Mereka berdagang namun tidak tahu akan dibawa kemana perdagangannya ketika ajal menjemput. Mereka kaya namun tidak paham untuk apa uangnya ia persembahkan. Begitulah kondisi bangsa Arab Jahiliyah yang tertimpa kegelapan moral dan akhlaq. Sungguh ini lebih buruk dan lebih terpuruk daripada kegelapan lampu-lampu kita.

Bagaikan berada di padang gersang luas yang takkan kau temukan air disana, datanglah seorang pemuda gagah berani dan terpercaya membawakan air minum yang sejuk dan menyegarkan. Begitulah Rasulullah SAW, diutus oleh Allah SWT kepada ummat manusia khususnya bangsa Arab Jahiliyah, dengan segala kemuliaan moral dan akhlaqnya. Keberanian, ketenangan, dan sikap optimisnya membawa cahaya yang sedikit demi sedikit melenyapkan kegelapan di sekitarnya.

Dakwahnya yang bijaksana dan pengajaran yang baik telah mengeluarkan bangsa Arab dari kegelapan Jahiliyah kepada cahaya Islam. Hingga mereka mengingkari thaghut-thaghut mereka dan hanya Allah saja yang berhak mereka sembah. Ayat-ayat cinta yang selalu ia lantunkan mencerminkan pengabdian yang mendalam pada ummatnya, bahkan ketika maut menjemputnya.

Hari ini memang gelap, namun bersyukurlah kepada Allah atas nikmat islam dan nikmat iman yang tak dirasakan oleh orang-orang kafir. Lahir dalam keadaan muslim adalah anugerah terindah dalam hidup ini. Iman yang kita yakini dalam hati, yang kita ucapkan dengan lisan, dan kita amalkan dalam perbuatan menuntut keistiqamahan dalam diri ini. Istiqamah dalam mensyukuri apa yang Allah berikan pada kita semua, agar Allah Yang Maha Pemberi menambahkan nikmat ini. Istiqamah dalam berdzikir dan berfikir memuji kebesaran Allah SWT. Sehingga istiqamah akan membawa kita menuju kebahagiaan yang haqiqi, di dunia dan di akhirat. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Wallahu a’lam.

Sabtu, 30 April 2016

HUJAN DAN SYUKUR

HUJAN DAN SYUKUR
Oleh: Mujahid Robbani Sholahudin

Teringat di masa kecilku, ketika ummiku menyanyikan lagu untukku..

"Allah turunkan hujan
Dari gumpalan awan
Dari langit yang tinggi
Membasahi seluruh bumi

Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Allah tumbuhkan sayur mayur

Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Pantaslah kita bersyukur"

Mendengar lagu itu, tertanamlah dalam benakku nilai-nilai ketauhidan. Bahwasanya hujan ini Allah-lah yang menurunkannya. Maka sepenuhnya saya meyakini bahwa tidak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia, melainkan ada manfaat atau hikmah di dalamnya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran: 190-191)

Namun seringkali manusia mengeluh akan datangnya hujan bahkan ada pula yang mencacinya. Padahal Allah telah jelaskan dalam firman-Nya bahwa hujan membawa rahmat bagi manusia.

"Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf: 57)

Pada dasarnya memang manusia tidak pernah puas akan keadaan. Jika diberikan panas terik, manusia mengeluh. Jika diberikan hujan lebat, manusia juga mengeluh. Lantas kapankah kita bisa bersyukur atas nikmat Allah?

Padahal syukur adalah salah satu indikator keimanan seorang hamba Allah, bahkan lawan dari syukur adalah kufur.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)

Marilah sama-sama kita bersyukur terhadap nikmat Allah. Jadikan hujan ini sebagai jalan kita mengenal Sang Pencipta, karena hujan merupakan salah satu Ayat-Ayat Kauniyah. Sehingga bagi kita orang yang beriman kepada Allah SWT, gunakanlah akal kita untuk berpikir dan Al-Quran sebagai pemberi penjelasan. Sehingga kita menjadi hamba Allah yang Tashdiq (membenarkan) dan berujung pada semakin kuatnya iman kita kepada Allah SWT.

Semoga Allah anugerahkan taufiq dan hidayah kepada kita semua. Aamiin. Wallahu a'lam.

Kamis, 31 Desember 2015

Biografi Tokoh Aktivis UNJ (Zarqony Alwy Ahmad)



Zarqony Alwy Ahmad
(Ketua LDK Salim UNJ 2015)



Beliau adalah seorang mahasiswa muda berumur 21 tahun bernama Zarqony Alwy Ahmad. Terdaftar sebagai mahasiswa aktif S1 Pendidikan Tata Boga UNJ. Pria yang mempunyai hobi memasak ini pada tahun 2015 awal diamanahkan sebagai Ketua Lembaga Dakwah Kampus di Universitas Negeri Jakarta yang sering disebut sebagai Salim (Sahabat Muslim).
            Sebagai seorang aktivis kampus, pastinya beliau memiliki track record dalam berorganisasi. Namun uniknya, perjalanan organisasi bang Alwy ini tidak terlalu linier, bahkan cenderung menyeluruh. Karena bang Alwy ini telah mencoba tiga ranah organisasi, yaitu Eksekutif, Legislatif, dan juga Lembaga Dakwah Fakultas dan Universitas. Inilah alasan utama saya mengambil bang Alwy sebagai tokoh aktivis di penugasan beasiswa Laznas BSM bulan Desember ini.
            Di tahun kedua beliau menjabat sebagai Ketua BEM Jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga, artinya beliau berada di ranah Eksekutif. Lalu di tahun ketiga beliau menjabat sebagai Wakil Ketua FSI Al-Biruni (Lembaga Dakwah Fakultas Teknik) dan sekaligus Anggota Badan Perwakilan Mahasiswa FT, yaitu di ranah Legislatif. Dan di tahun keempat beliau diamanahkan sebagai Ketua LDK Salim UNJ, menjadi seorang aktivis dakwah tulen yang menurut saya komprehensif dalam pengalamannya. Luar biasa.
            Mengapa beliau mengikuti berbagai ranah organisasi, dari Eksekutif, Legislatif, dan Lembaga Dakwah? Tentang ini beliau berpendapat: “Tujuan saya mengikuti organisasi adalah untuk menambah ilmu dan pengalaman, karena terkadang kita dituntut untuk banyak menguasai bidang ilmu dan keahlian. Dan di kampus inilah jalan manusia untuk bernegara dan bersosial.” Inilah yang membuat bang Alwy terus komitmen.
            Lalu bagaimana dengan akademiknya? Biasanya yang sering terjadi adalah aktivis organisasi tidak lancar akademiknya. Namun itu tidak terjadi pada bang Alwy. Beliau tetap seimbang dalam akademik dan organisasi. Bahkan beliau mendapatkan beberapa prestasi seperti usahanya yang bernama I-Chips lolos Program Mahasiswa Wirausaha 2013 dan didanai DIKTI. Lalu beliau juga membuat program Bang Salim, yaitu Bir Pletok yang lolos Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan 2014 dan lagi-lagi didanai oleh DIKTI. Beliau juga punya program Bakulindo, yang juga lolos PKM-K 2014 dan juga didanai DIKTI. Selain itu, beliau juga mantap dalam memasak, dibuktikan dengan meraih Juara 1 Lomba Masak Ikan dalam acara Hari Ulang Tahun TMII ke-39 di tahun 2014. Masya Allah.
            Bagaimana bisa beliau berprestasi di tengah amanah yang ada di pundaknya? Beliau berkata: “Itu dia, skill, aktivitas dan prestasi adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan, ibarat masakan, garam itu adalah prestasi, kompor adalah aktivitas, dan bahan makanan adalah skill. Bayangkan kalau salah satunya tidak ada, maka tidak akan ada yg mau makan atau mendengarkan kita saat kita berkoar didepan umum. Tetapi kalau aspek itu semua terpenuhi, orang lain yang bahkan akan mencari kita. Itulah prinsip yang coba saya terapkan.”
            Beliau berpesan: “Lakukanlah segala aktivitas sekreatif mungkin selama masih punya kekuasaan dan kesempatan, karena apa yang kita lakukan kedepannya pasti akan dilupakan. Meskipun tidak menjadi sebuah kenangan indah untuk orang lain, minimal menjadi kenangan indah untuk diri kita sendiri.”
            Itulah biografi singkat bang Zarqony Alwy Ahmad. Semoga bisa menginspirasi kita dan menambah semangat kita dalam berorganisasi maupun berprestasi. Dan semoga bermanfaat.

Rabu, 30 September 2015

Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Berbagai Permasalahan di Indonesia



Indonesia dengan jutaan penduduk muslimnya menjadikan negara ini layak disebut sebagai salah satu negara muslim terbesar di dunia. Namun banyak sekali permasalahan yang timbul di negara ini. Bahkan tidak sedikit yang berkaitan dengan moral dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan koridor agama dan peraturan. Betapa menyedihkan ketika kita menyadarinya. Dan menurut saya, solusinya adalah Pendidikan Agama Islam yang berbasis nilai-nilai keindonesiaan.
Pendidikan menjadi sebuah kunci peradaban. Peradaban akan baik ketika pendidikannya berkualitas. Selain itu, agama Islam yang merupakan satu-satunya agama yang diridai Allah juga merupakan solusi bagi berbagai permasalahan yang muncul di Indonesia. Karena Allah telah menjamin dalam kitab suci Alquran yang berbunyi sebagai berikut:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)
Kita juga tidak mungkin bisa melupakan peran pendahulu kita, kakek dan nenek moyang kita yang telah berjuang mati-matian membela dan merumuskan dasar negara Indonesia. Tentu saja mereka tidaklah merumuskan hal itu secara sembarangan. Merekalah para manusia biasa yang telah diilhami dengan kebijaksanaan, keberanian dan optimisme. Sehingga terbentuklah nilai-nilai Indonesia, terutama Pancasila sebagai dasar negara kita dan menjadikan Indonesia merdeka yang hingga kini telah berumur tujuh puluh tahun.
Jika kita telusuri, ternyata Pancasila dari sila pertama hingga sila kelima, semuanya sejalan dengan nilai-nilai Islam. Mari kita telusuri, pada sila pertama tertulis “Ketuhanan yang Maha Esa.” Sila ini menjelaskan bahwa Indonesia menganut Monoteisme (Tauhid). Dan kita tahu bahwa hakikat dakwah para Rasul semenjak zaman nabi Adam as. hingga nabi Muhammad saw. adalah Tauhid, yaitu mengesakan Allah. Disinilah terdapat nilai akidah sebagai fondasi keimanan seseorang. Maka jika ingin Indonesia bangkit dari keterpurukan, mulailah dengan penanaman akidah yang kuat dan bersih (Salimul Aqidah).
Selain nilai akidah, pada sila pertama juga terdapat nilai ibadah. Allah telah berfirman bahwa salat mampu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar. Puasa mampu menundukkan hawa nafsu. Zakat mampu menyucikan jiwa dan harta kita. Dan haji mampu memurnikan ketaatan kita kepada Allah Yang Maha Esa, tunduk dan patuh hanya kepada Allah. Maka jika Indonesia ingin menghilangkan kriminalisme, maka perbaikilah ibadah kita. Ibadah pun juga harus mengikuti tuntunan Rasul saw. dan juga ikhlas hanya untuk Allah (Shahihul Ibadah).
Pada sila kedua berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Sebagai seorang khalifah di muka bumi, Allah telah memerintahkan kita untuk berbuat adil dan beradab dalam menjaga dan memelihara bumi. Disini terdapat nilai akhlakul karimah, baik kepada Allah, makhluk-Nya, dan juga diri sendiri. Sementara kita sering melihat berita di televisi, kasus bunuh diri, penebangan liar, pemerkosaan, pembunuhan, dll. Di mana nilai-nilai ke-Indonesia-an mereka? Nah, disini peran Pendidikan Agama Islam harus mengokohkan akhlak manusia (Matinul Khuluq).
Sila berikutnya adalah “Persatuan Indonesia”. Dengan berbagai macam suku bangsa, bahasa, budaya dan agama memang menjadi tantangan yang besar untuk menyatukan Indonesia. Para pendahulu kita juga sering mewanti-wanti agar masyarakat Indonesia terus bersatu. Peristiwa Sumpah Pemuda memberikan gambaran betapa pentingnya persatuan Indonesia. Namun, sekarang yang terjadi adalah banyaknya perdebatan yang tidak bermanfaat, bangsa ini terpecah-belah karena politik praktis, lalu umat Islam terjebak dengan permasalahan sepele karena perbedaan cabang dalam agama. Bangsa ini tidak akan bisa bersatu jika terus mementingkan egoisme pribadi.
Dalam Islam, dikenal nilai ukhuwah, bahwa setiap muslim itu bersaudara, bersatulah dalam tali agama Allah dan jangan terpecah-belah. Kita juga mengenal tahapannya, mulai dari mengenal satu sama lain, saling memahami, saling tolong-menolong dan senasib sepenanggungan. Bahkan indahnya ukhuwah islamiah, dikenal istilah itsar sebagai puncak dari ukhuwah, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya dan juga istilah salimatus shadr, yaitu berlapang dada terhadap saudaranya. Masya Allah, Pendidikan Agama Islam di Indonesia harus menekankan prinsip bersatu dalam akidah, sedangkan masalah kecil yang bersifat cabang seperti aliran mazhab selagi masih berlandaskan Alquran dan Sunah maka tidak perlu untuk diperdebatkan sehingga menyulut perpecahan.
Berikutnya yaitu sila keempat “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan/atau perwakilan”. Jika kita memaknai lebih dalam, rakyat Indonesia ini harus memiliki pemimpin. Pemimpin yang bijaksana dalam bersikap, yang mampu menyerap aspirasi masyarakat melalui prinsip musyawarah dan/atau perwakilan rakyat. Dalam Islam, dikenal istilah Al-Qiyadah wal-Jundiyah, yaitu tentang hak dan kewajiban serta etika pemimpin terhadap rakyatnya, maupun rakyat kepada pemimpinnya. Juga dikenal ‘Amal Islami, bahwa dalam bergerak dan bekerja itu butuh berjamaah (bekerjasama) dalam mencapai satu tujuan yang sama. Namun, sekarang yang terjadi adalah pemimpin tidak paham akan kepemimpinannya, aspirasi masyarakat diabaikan, rakyat tidak memercayai pemimpinnya, pemerintahan yang tidak mampu bekerjasama dengan pihak lainnya sehingga tidak sinergis. Ini membuktikan bahwa Pendidikan Agama Islam akan berperan besar menanamkan nilai dan menjadi solusi permasalahan pada sila ini.
Dan yang terakhir adalah “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Banyak kasus tentang belum adilnya kehidupan sosial di Indonesia, ketika kesenjangan terjadi antara si kaya dan si miskin. Ini berkaitan pula dengan kemandirian seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Juga berkaitan dengan lapangan pekerjaan yang semakin lama semakin sempit. Ini begitu kompleks, padahal solusinya juga terdapat di dalam Islam, yaitu zakat. Kita tahu bahwa zakat adalah wajib bagi seorang muslim, bahkan senantiasa diingatkan begitu banyak dalam Alquran. Zakat jika diterapkan dengan baik maka tidak akan ada lagi rakyat yang kelaparan, terbukti pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, ketika tidak ada lagi yang bisa diberikan santunan zakat. Zakat sangat banyak ketentuan dan jenisnya, maka Pendidikan Agama Islam sangat penting untuk mendidik dan membantu terlaksananya zakat dalam prinsip seorang muslim di masa depan.
Jadi, kita sudah yakin dengan mantap bahwa Pendidikan Agama Islam sebenarnya menjadi solusi konkret jangka panjang untuk memperbaiki Indonesia, dan nilai-nilai Indonesia dalam pancasila ikut andil dalam penyesuaian terhadap kondisi yang ada pada Indonesia. Ini menjadi model yang sangat baik menurut saya. Benarlah perkataan Rasulullah saw.:
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya.” (HR. Malik)
Mengapa kini Indonesia menghadapi berbagai masalah kompleks? Jawabannya adalah karena bangsa Indonesia semakin jauh dengan agama Islam. Jangan salahkan Islam ketika Indonesia terpuruk, tapi salahkan manusianya yang belum sadar terhadap agamanya. Nah, lagi-lagi Pendidikan Agama Islam menjadi sangat berperan dalam mendidik generasi pencerah peradaban. Semoga Pendidikan Agama Islam di Indonesia di masa depan benar-benar menjadi solusi bangkitnya peradaban Indonesia. Sehingga membuktikan janji Allah kepada bangsa yang beriman dan bertakwa, bahwa Indonesia akan diberkahi oleh Allah dari langit dan dari bumi. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lam.





DAFTAR PUSTAKA
RI, Departemen Agama. 1976. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Bumi Restu
Malik bin Anas. 2009. Al-Muwaththa’ Imam Malik. Diterjemahkan oleh: Muhammad Iqbal Qadir. Jakarta: Pustaka Azzam
Republik Indonesia. 1945. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta: Sekretariat Negara
Jasiman. 2009. Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah. Surakarta: Aulia Press
Masyhur, Syaikh Mushthafa. 2000. Fiqh Dakwah. Diterjemahkan oleh: Abu Ridho. Jakarta: Al-I’tishom
Al-Banna, Hasan. 2012. Majmu’atu Rasa’il. Diterjemahkan oleh: Anis Matta. Surakarta: Era Adicitra Intermedia
http://www.ahmadheryawan.com/lintas-jabar/lintas-jawa-barat/23-pendidikan/4058-pendidikan-kunci-kemajuan-peradaban